RSS

Street food: Bukan Sekedar Makanan Pinggiran

Street food alias makanan pinggir jalan, siapa sih yang tidak kenal? Apalagi buat anak kos seperti saya, sehari-hari banget! – hehe jadi curhat  Oya, kok saya tiba-tiba kok jadi ngomongin makanan? Jadi begini, kali ini saya mau ikut lomba dulu yah ada kontes blog nih, namanya Femina Foodlovers Blog Competitions 2013 yang diadakan oleh Femina dong tentunya. Hadiahnya ke Singapura untuk menghadiri World Street Food Congress 2013 – bagian WSF Jamboree Feast, 2 -4 Juni 2013 untuk mencicipi street food terbaik dari seluruh dunia. Gratis! Oya Anda, juga boleh ikutan kok caranya klik banner di bawah ini nih.

Oke deh, langsung aja yuk kita bahas tentang street food. This is it :

Identitas suatu daerah

Yup, street food yang juga dikenal sebagai makanan ala Pedagang Kaki Lima (PKL) sering sekali dijumpai di berbagai tempat di Indonesia. Dinamakan sebagai street food karena lokasinya ada di pinggir jalan dengan tampilan yang cenderung sederhana yakni menggunakan gerobak beroda dua, tenda, hingga lesehan. Penataan lokasi berjualan biasanya bongkar pasang dengan menetap di suatu lokasi maupun berkeliling ke berbagai lokasi. Paling sering PKL dijumpai di pinggir alun-alun kota, area wisata, perkantoran, hingga area kampus atau sekolah. Semarang contohnya merupakan kota yang terkenal dengan street food-nya yaitu penyetan. Panganan yang satu ini tidak asing di daerah kampus saya. Sebagian besar anak kos pasti makan ini -hehehe curhat lagi. Penyetan dikenal juga dengan pecel lele, tetapi bukan sekedar ikan lele saja dalam makanan ini. Ada tempe, tahu, telur, terong, ayam, bebek, burung dara, hingga pete yang digoreng atau dibakar dan disajikan dengan sambal tomat atau trasi uleg serta lalapan berupa kol, kacang panjang, dan mentimun. Semarang juga terkenal dengan tahu gimbal yakni tahu dan sayur dengan sambal kacang. Agak mirip gado-gado sih. Oya, ada juga lho street food yang terkenal banget di Semarang, tepatnya di kampung pecinan. Di tempat ini banyak banget makanan Chinese food kayak aneka seafood, mie, dan aneka jajanan khas semarang seperti lumpia, wingko, leker, kue ganjel rel, dan sebagainya. Kota lain yang identik banget dengan street food yang saya tahu adalah Pekalongan. Hampir di pinggir alun-alun kota pasti ada lesehan nasi megono (sejenis nasi urap), soto tauco, hingga pindang tetel (mirip seperti rawon yang diberi urap). Bahkan kota ini selalu mengadakan pameran batik dan festival kuliner setiap tahun di alun-alun Jetayu.

Kopi tahlil perpaduan kopi dengan jahe di warung kopi Pekalongan

Kopi tahlil perpaduan kopi dengan jahe di warung kopi Pekalongan

nasi megono terbuat dari nangka muda dan kelapa parut, enak selagi hangat

nasi megono terbuat dari nangka muda dan kelapa parut, enak selagi hangat

Begitulah, saya jadi mengambil kesimpulan jika ternyata dari jajanan pinggir jalan ini mencerminkan identitas tersendiri bagi suatu daerah. Di Pemalang identik dengan street food nasi grombyang, di Magelang ada kupat tahu, di Solo ada nasi timlo dan masih banyak lagi. Bahkan, street food juga menceminkan keragaman waktu. Contohnya street food di pagi hari biasanya bubur ayam, lontong sayur, nasi gudeg, hingga nasi uduk. Street food siang hari biasanya pecel, gado-gado, bakso, mie ayam, hingga aneka soto. Sedangkan di malam hari kita bisa menikmati sate, penyetan, nasi goreng, martabak, hingga aneka bakmi.

Rasa boleh diadu

Siapa bilang street food rasanya tidak bisa diandalkan? Eits jangan salah, justru katanya banyak tercipta koki-koki jalanan yang gak kalah sama di resto. Buktinya ada di Semarang. Ada sebuah warung tenda nasi rawon di jalan Setiabudi yang ramenya minta ampun! Nasi rawon ini enak dan digemari warga kalangan atas. Banyak mobil pribadi para pembeli parkir di depan warung ini.
Ayah saya juga mengakui rasa masakan dipinggir jalan lebih enak. Pernah saya mengajak beliau makan di sebuah cafe, setelah itu beliau komentar cukup kali ini saja makan di cafe. Rasanya kurang cocok bagi lidahnya. Ya, saya juga mengakui masakan ala street food memiliki rasa yang oke. Terutama untuk makanan tradisional seperti pecel, rujak, dan gado-gado yang rasanya dalam Bahasa Jawa lebih ngluget alias bumbu tercampur rata. Hanya saja, penyajian street food seringkali apa adanya berbeda dengan makanan ala resto yang sering dilengkapi dengan garnish sehingga mempercantik dan menggugah selera. Saran saya untuk mengetahui kualitas rasa street food tersebut ada baiknya Anda mencari makanan pinggir jalan yang ramai pengunjung. Hal itu menunjukkan street food tersebut recomended yakni sudah menjadi langganan banyak orang.

Harga ramah di kantong

Poin inilah yang paling saya sukai dari street food yakni harga terjangkau. Bayangkan dengan Rp 500 hingga Rp 1000 saja Anda sudah bisa membeli sepotong gorengan maupun jajanan pasar. Bahkan dengan Rp 10.000 saja Anda bisa menikmati semangkuk bakso, mi ayam, hingga nasi goreng. Harga yang murah apalagi di kalangan anak kos, hehehe. Akan tetapi, saya juga pernah menjumpai street food yang menetapkan harga sembarangan. Oleh karenanya, ada baiknya menanyakan harga sebelum membeli.

Tempat nongkrong dan sharing

Street food juga merupakan tempat nongkrong yang asyik. Menurut saya, street food bisa menjadi lokasi alternatif liburan untuk menghilangkan penat. Di Pekalongan tepatnya di depan SMP Negeri 2 banyak sekali berjejeran lesehan warung kopi. Penikmatnya tidak hanya orang tua, tetapi juga para muda-mudi. Sambil menikmati aneka kopi hingga hot chocolate, saya bisa berbagi informasi atau sekedar ngobrol dengan pengunjung lainnya. Manfaatnya, selain mendapatkan kenalan baru, saya juga bisa mengetahui kabar-kabar up to date di daerah setempat dan juga saling bertukar pikiran. Dari obrolan di street food inilah, saya sering mendapatkan ide-ide segar untuk melakukan sesuatu hal, sungguh menginspirasi.

Walaupun demikian, street food memilki kekurangan dengan masalah higienitas. Masih ada street food nakal yang menggunakan bahan makanan yang sudah tidak layak pakai. Oleh karenanya harus pandai-pandai memilih street food. Oya, berikut ini ada beberapa tips dari saya agar aman dan nyaman mengkonsumsi street food :

– Bawa peralatan makan sendiri

Anda harus memperhatikan kebersihan peralatan makan street food. Seperti saya terkadang membawa mangkuk sendiri ketika membeli mie ayam, karena sering kali peralatan makan dicuci dalam satu ember air yang kurang bersih.

– Perhatikan kebersihan

Carilah lokasi street food yang bersih yakni tidak ada lalat. Karena lalat tersebut membawa kuman yang dapat mengakibatkan penyakit seperti disentri, kholera, diare, hingga gatal-gatal pada kulit. Anda juga harus memperhatikan bahan makanan street food, apakah minyak sudah jenuh, apakah sayuran dicuci terlebih dahulu, apakah es batu terbuat dari air yang matang, apakah bungkus makanan bersih dan sebagainya.

– Banyaklah request

Tidak ada salahnya Anda banyak request saat memesan makanan. Hal ini bertujuan untuk memastikan makanan yang Anda konsumsi sehat. Misalnya Anda memesan mie ayam, request-lah seperti tidak diberi bumbu penyedap masakan, tidak diberi saos sambal, minta tambah sawi, dan minta banyak ayamnya hehe…

– Bawa uang receh

Hal ini perlu mengingat sering kali terjadi pungutan liar (pungli) dari pengemis maupun pengamen saat tengah menikmati street food.

Itulah pendapat saya tentang street food. Saya sangat mendukung keberadaan street food di Indonesia. Karena selain membantu perekonomian para PKL juga dapat memperkaya keragaman kuliner nusantara. Saya sangat menyayangkan sikap pemerintah menggusur para PKL karena dianggap membuat kumuh kawasan kota. Justru seharusnya, PKL ditata dan dipromosikan agar menambah keindahan kota serta memunculkan potensi pesona kuliner setempat.

 
Leave a comment

Posted by on April 28, 2013 in community

 

Tags: , ,

Mendulang Berkah dari Sampah

Sampah menjadi masalah bagi kota-kota besar. Data dari Kementrian Lingkungan Hidup tahun 2012 menunjukkan rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk. Kondisi ini akan terus bertambah sesuai dengan kondisi lingkungannya. Salah satu yang paling mencemaskan adalah sampah plastik. Sampah ini memerlukan waktu 200 hingga 400 tahun agar dapat terurai secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna. Ini adalah sebuah waktu yang sangat lama. Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah. Badan Lingkungan PBB memperkirakan, tahun 2006 tiap 1 mil persegi lautan mengandung 46.000 lembar sampah plastik (marine debris). Dilaporkan, dasar perairan Samudra Pasifik tertutup sampah plastik yang luasnya dua kali daratan Amerika Serikat—diperkirakan jadi dua kali lipat pada 2015. Ini akan berdampak negatif pada rantai makanan.

Solusi mengatasi sampah plastik menjadi hal yang cukup sulit dilakukan. Jika sampah bekas kantong plastik itu dibiarkan di tanah jusrtu akan menjadi polutan yang signifikan. Jika dibakar, sampah-sampah itu pun akan secara signifikan menambah kadar gas rumah kaca di atmosfer. Berbagai upaya menekan upaya penggunaan kantong plastik dilakukan oleh beberapa negara. Seperti melakukan kampanye untuk menghambat terjadinya pemanasan global. Akan tetapi hal tersebut tidak akan berjalan efektif jika tidak ada kesadaran dari masing-masing individu untuk melestarikan lingkungan. Diperlukan solusi kreatif dan inovatif untuk mengatasi sampah-sampah plastik, yakni melalui daur ulang sampah.

Ya, daur ulang sampah. Langkah ini dapat membantu mengurangi jumlah sampah plastik secara lebih signifikan. Salah satunya adalah pengolahan sampah yang dilakukan oleh Mohammad Baedowy, sang pengusaha sampah asal Bekasi, Jawa Barat.

Terinspirasi Pemulung
Berawal dari ketidakpuasannya terhadap pekerjaan sebagai auditor bank kala itu, Baedowy nekat keluar dari pekerjaannya demi mendapatkan kemapanan hidup yang lebih baik. Setelah keluar dari pekerjaannya, ia tidak lantas sukses. Bahkan ia mendapat cemooh dari dari berbagai pihak, termasuk bosnya saat ia memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai auditor bank. Bosnya menuding bahwa Baedowy tidak akan pernah sukses. “You are so young, very emotional. Ingat kata-kata saya, kamu tidak akan bisa sukses. Kamu tidak sabaran,” papar Baedowy mengenang perkataan bosnya. Menerima cemooh tersebut, ia justru semakin bersemangat. Ia mulai bangkit dan mencari cara untuk melanjutkan hidup. “Saya ingin berwirausaha. Saya menyadari bahwa kita bekerja baik pun tidak lantas berbanding lurus dengan prestasi dalam reward gaji,” ujarnya menceritakan alasan memutuskan keluar dari Royal Bank of Scotland (RBS) yang berlokasi di kawasan elite, Jakarta. Di tempat kerja sebelumnya itu, Baedowy sebenarnya berprestasi. Dia bahkan dijuluki rising star karena dianggap berprestasi ketika usianya masih muda, sekitar 24 tahun.

Menyandang gelar mantan karyawan, Baedowy sempat kebingungan. Lulusan Universitas Merdeka Malang ini mulai berpikir keras akan berbisnis apa. Ia berpikir untuk berbisnis makanan, tetapi ia ingat resiko basi. Berbisnis tanaman beresiko hama. Beternak resiko ternak mati.

Akhirnya, pria kelahiran Balik Papan ini memutuskan untuk berbisnis ternak jangkrik. Akan tetapi, saat musim panen tiba, ia merasa populasinya justru semakin sedikit. “Sepertinya, jangkrik itu kanibal atau apa saya tidak paham,” ungkapnya.

Menghadapi kegagalan dalam bisnis ternak jangkrik, membuat ia kembali berpikir keras. Suatu ketika, ia melihat seorang pemulung tengah mencari sampah di pinggir jalan. Rasa penasaran muncul dari dalam dirinya. Ia pun membuntuti pemulung itu pergi. Sampailah ia ke sebuah lapak milik seorang pengusaha sampah. Ia melihat si pengusaha sampah memiliki dua buah mobil. “Saya kagum. Padahal dia cuma lulusan SD,” tutur Baedowy. Dia akhirnya bekerja dengan pengusaha sampah itu sekaligus belajar mendapatkan ilmu berbisnis sampah. Setelah beberapa bulan, ia mulai membuka usaha sendiri. Bermodalkan 50 juta rupiah, ia juga memutuskan untuk membeli lahan dengan kondisi sederhana. Ia juga membeli mesin pencacah sampah bekas.

Hambatan Silih Berganti

Usaha Baedowy ini mengalami beragam cobaan. Di tahun pertama berbisnis, ia mendapatlan beragam kendala teknis maupun maupun non teknis. Mesin bekas yang ia beli rusak. Pihak penjual tidak bisa memperbaikinya. Ia juga meminta tolong pihak pengepul, tetapi mereka tidak mau mengajarkan bagaimana memperbaiki mesin penggiling sampah. “ Dulu, cobaan saya keras betul. Mesin sering ngadat. Akhirnya saya perbaiki sendiri selama setahun. Saya bawa ke tukang besi dan las bubut. Tidak hanya itu, saya juga mendapatkan tekanan dari berbagai pihak tak terkecuali keluarga saya tentang pekerjaan saya. Mereka malu punya anak lulusan sarjana tapi kerjaanya mengurusi sampah.” Kenangnya.

Namun, berkat usahanya mengutak atik mesin pencacah sampah secara mandiri, ia jadi tahu seluk beluk mesin. Dia bahkan sanggup mendesain mesin sendiri dengan mempelajari kesalahan dari mesin yang ada. Sayangnya, saat itu modalnya semakin tipis. Tepat setahun sejak membuka usahanya, ia bangkrut. “Itu adalah masa yang paling menyedihkan bagi saya. Saya dan keluarga harus hengkang dari rumah kontrakan karena tidak sanggup lagi membayar uang sewa. Bahkan saya harus menitipkan istri dan anak saya ke orang tua saya.” Kenangnya sedih.

Ia sadar kesuksesan tidak instan. Ia terus bangkit. Ia kembali memulai bisnisnya dengan bermodalkan mobil pick up. Ia juga kembali belajar ke pengepul besar. Ia mendapatkan ilmu baru untuk menetapkan harga agar disenangi para pemulung. “Kalau pengepul lain menerima dengan harga Rp1.500 per kilogram, saya berani menerima dengan harga Rp1.700. Akhirnya, para pemulung lebih suka menjual kepada saya,” ceritanya. Sejak saat itu usaha Baedowy mulai bangkit.

Melestarikan Lingkungan sekaligus Berbisnis

Usaha Baedowy memang ramah lingkungan. Bagaimana tidak, ia turut mengolah kembali sampah menjadi barang-barang yang bisa digunakan kembali yakni seperti beraneka bijih plastik, sendok lem, hingga lakop sapu. Untuk mengolah sampah tersebut, Baedowy mengumpulkan sampah-sampah plastik di daerah Mustika Jaya, Bekasi Jawa Barat. Ia juga mendapatkan sampah dari para pengepul atau lapak di Jawa Barat. Sampah plastik yang telah terkumpul lalu ditimbang dan dipisahkan berdasarkan jenisnya. “Sampah-sampah tersebut harus dipisahkan berdasarkan jenis dan warnanya masing-masing. Jadi dari awal sampah-sampah plastik dikumpulkan dari para pemulung akan disetorkan pada bandar atau lapak. Nah, lapak-lapak itu akan memberikan hasil kumpulan sampah-sampah plastiknya ke tempat kami. Lalu, kami akan menimbang dan membayar sesuai harga yang kita sepakati.” Ungkapnya.

Pengolahan sampah plastik menggunakan mesin pencacah sampah buatannya sendiri. Proses awal dalam pengolahan sampah adalah memasukkan sampah-sampah plastik ke dalam mesin pencacah. Mesin akan menggiling sampah plastik menjadi bentuk cacahan. Setelah itu memasuki proses pencucian dan pembilasan. Terakhir, cacahan sampah plastik memasuki proses pengeringan. Dalam proses ini, Baedowy juga membuat mesin peras yang menggunakan sistem sentrik dimana akan berputar secara cepat untuk mengeringkan cacahan sampah tersebut. Sistem kerjanya mirip dengan mesin cuci. Agar lebih kering, cacahan sampah juga dimasukkan ke dalam oven khusus. Dalam sehari Baedowy mampu menggiling sampah sebanyak satu hingga tiga ton.

Kini Baedowy bukan sekadar menjadi penadah, tetapi juga pembuat mesin dan menjualnya kepada mitra. Mekanismenya mirip franchise. Sebab, selain diberi pelatihan setelah membeli mesin darinya, hasil penggilingan mitra bisnis juga ditampung. Saat ini Baedowy memiliki lebih dari 100 mitra yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia dari Aceh hingga Papua. Bijih plastik hasil olahannya pun diekspor hingga ke luar negeri. “ Hasil olahan plastik ini kami ekspor juga, terutama di China. Bijih-bijih palstik sangat dibutuhkan di sana untuk membuat benang pada pabrik tekstil.” Ujarnya.

Usaha yang melibatkan para pemulung ini semakin berbuah manis. Selain mendapatkan keuntungan yang besar hingga 1,5 Milyar per tahun, ia juga mendapatkan beragam penghargaan secara nasional hingga internasional sebagai usaha yang peduli terhadap lingkungan. Penghargaan tersebut diantaranya juara 1 pemuda pelopor tingkat nasional 2006, tokoh terbaik pilihan majalah Tempo, Soegeng Sarjadi Awards on Good Governance, piagam penghargaan Kalpataru 2010, juara 1 wirausaha terbaik Indonesia versi Dji Sam Soe Awards, hingga Indonesia Asean Young Green Soldier 2011.

Dengan pencapaian sekarang, Baedowy teringat sebuah tulisan yang dikutip dari kitab kuno tulisan Sasongko Jati. Tulisan itu dia pajang di halaman depan skripsinya. Menurut penerjemahannya, tulisan bahasa Jawa itu kira-kira berbunyi: ’’Bagaimana mungkin kamu bisa mengerjakan pekerjaan yang besar kalau yang kecil saja tidak terbiasa. Dan, pekerjaan itu walaupun remeh semua datangnya dari Tuhan. Maka lakukan dengan sungguh-sungguh dan hati yang suci”. Dari tulisan tersebut, ia ingin memberikan gambaran kepada masyarakat untuk menghargai lingkungan dimulai dengan cara yang sederhana dan hati yang tulus.

 
Leave a comment

Posted by on April 14, 2013 in community

 

Hai dotcommers.. dukung blog ini yah dalam Big Blog Exchange Competition!

<a href=”http://www.bigblogexchange.org/blog/729001” target=”_blank”><img src=”http://www.bigblogexchange.org/img/bbe-votebanner.gif” /></a>

caranya.. klik link di atas yah untuk dukung blog ini..

Big Blog Exchange Competition merupakan kontes blog internasional yang memberikan kesempatan bagi para blogger buat exchange ke luar negeri!!. misalnya nih, dotcommers asli Indonesia sedangkan si B adalah orang Singapura maka akan saling tukar posisi alias saling belajar kebudayaan antar bangsa gitu deh…

asyik kann?? makanya dotcommers juga boleh ikutan kompetisi ini. dan jangan lupa dukung Dotcomms juga yahh… terima kasih🙂

 
Leave a comment

Posted by on April 10, 2013 in community

 

Tags:

Videokeman

videokeman mp3
Marry Your Daughter – Brian McKnight Song Lyrics

 
Leave a comment

Posted by on January 4, 2012 in community

 
Video

Ayo Berhijab Cantik!

Hei, Dotcommers! Ada informasi menarik nih buat Dotcommers yang berhijab. Dotcomms bakal bagi-bagi dotcommers beberapa style hijab cantik ala Dian Pelangi yang Dotcomms intip langsung saat Hijabers Semarang mengadakan talkshow Sharing Moment with Dian Pelangi (10/12). Saat itu Dian Pelangi memberikan delapan style hijab, tapi untuk dotcommers, dotcomms beri dua aja ya? Hehehe… check this video! Semoga bermanfat 

watch our video :

 
3 Comments

Posted by on December 27, 2011 in community

 

Sharing Moment with Dian Pelangi “Temukan Aura Cantikmu dengan Hijab”

Ina Rovi (kiri) dan Dian Pelangi (kanan) berfoto bersama seusai acara (10/12)

Semarang- Dotcommers. Komunitas Hijabers Semarang menggelar event besar mereka Sabtu, 10 Desember 2010 lalu. Bertempat di hotel Dafam, Hijabers ini mengundang tamu besar mereka yakni Dian Pelangi, seorang fashion muslim designer dan juga Ina Rovi, seorang penyanyi pendatang baru muslimah. Mereka mengungsung acara talkshow dengan tema Sharing Moment with Dian Pelangi, Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 25, 2011 in community

 

Tags:

Hijabers Semarang : “Berhijab Modis Tak Melupakan Syariah Islam”

Anggota Hijabers Semarang berfoto bersama

Dotcommers. Berhijab merupakan salah satu ajaran dalam agama islam untuk para muslimah. Hanya saja berhijab hingga kini masih saja dinilai kurang modis. Namun, tidak bagi  komunitas muslim di Semarang. Terinspirasi dari Hijabers Community Jakarta, maka pada Bulan Juni 2011 lalu terbentuklah komunitas hijab Semarang Read the rest of this entry »

 
11 Comments

Posted by on December 25, 2011 in community

 

Tags: