RSS

Mendulang Berkah dari Sampah

14 Apr

Sampah menjadi masalah bagi kota-kota besar. Data dari Kementrian Lingkungan Hidup tahun 2012 menunjukkan rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk. Kondisi ini akan terus bertambah sesuai dengan kondisi lingkungannya. Salah satu yang paling mencemaskan adalah sampah plastik. Sampah ini memerlukan waktu 200 hingga 400 tahun agar dapat terurai secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna. Ini adalah sebuah waktu yang sangat lama. Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah. Badan Lingkungan PBB memperkirakan, tahun 2006 tiap 1 mil persegi lautan mengandung 46.000 lembar sampah plastik (marine debris). Dilaporkan, dasar perairan Samudra Pasifik tertutup sampah plastik yang luasnya dua kali daratan Amerika Serikat—diperkirakan jadi dua kali lipat pada 2015. Ini akan berdampak negatif pada rantai makanan.

Solusi mengatasi sampah plastik menjadi hal yang cukup sulit dilakukan. Jika sampah bekas kantong plastik itu dibiarkan di tanah jusrtu akan menjadi polutan yang signifikan. Jika dibakar, sampah-sampah itu pun akan secara signifikan menambah kadar gas rumah kaca di atmosfer. Berbagai upaya menekan upaya penggunaan kantong plastik dilakukan oleh beberapa negara. Seperti melakukan kampanye untuk menghambat terjadinya pemanasan global. Akan tetapi hal tersebut tidak akan berjalan efektif jika tidak ada kesadaran dari masing-masing individu untuk melestarikan lingkungan. Diperlukan solusi kreatif dan inovatif untuk mengatasi sampah-sampah plastik, yakni melalui daur ulang sampah.

Ya, daur ulang sampah. Langkah ini dapat membantu mengurangi jumlah sampah plastik secara lebih signifikan. Salah satunya adalah pengolahan sampah yang dilakukan oleh Mohammad Baedowy, sang pengusaha sampah asal Bekasi, Jawa Barat.

Terinspirasi Pemulung
Berawal dari ketidakpuasannya terhadap pekerjaan sebagai auditor bank kala itu, Baedowy nekat keluar dari pekerjaannya demi mendapatkan kemapanan hidup yang lebih baik. Setelah keluar dari pekerjaannya, ia tidak lantas sukses. Bahkan ia mendapat cemooh dari dari berbagai pihak, termasuk bosnya saat ia memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai auditor bank. Bosnya menuding bahwa Baedowy tidak akan pernah sukses. “You are so young, very emotional. Ingat kata-kata saya, kamu tidak akan bisa sukses. Kamu tidak sabaran,” papar Baedowy mengenang perkataan bosnya. Menerima cemooh tersebut, ia justru semakin bersemangat. Ia mulai bangkit dan mencari cara untuk melanjutkan hidup. “Saya ingin berwirausaha. Saya menyadari bahwa kita bekerja baik pun tidak lantas berbanding lurus dengan prestasi dalam reward gaji,” ujarnya menceritakan alasan memutuskan keluar dari Royal Bank of Scotland (RBS) yang berlokasi di kawasan elite, Jakarta. Di tempat kerja sebelumnya itu, Baedowy sebenarnya berprestasi. Dia bahkan dijuluki rising star karena dianggap berprestasi ketika usianya masih muda, sekitar 24 tahun.

Menyandang gelar mantan karyawan, Baedowy sempat kebingungan. Lulusan Universitas Merdeka Malang ini mulai berpikir keras akan berbisnis apa. Ia berpikir untuk berbisnis makanan, tetapi ia ingat resiko basi. Berbisnis tanaman beresiko hama. Beternak resiko ternak mati.

Akhirnya, pria kelahiran Balik Papan ini memutuskan untuk berbisnis ternak jangkrik. Akan tetapi, saat musim panen tiba, ia merasa populasinya justru semakin sedikit. “Sepertinya, jangkrik itu kanibal atau apa saya tidak paham,” ungkapnya.

Menghadapi kegagalan dalam bisnis ternak jangkrik, membuat ia kembali berpikir keras. Suatu ketika, ia melihat seorang pemulung tengah mencari sampah di pinggir jalan. Rasa penasaran muncul dari dalam dirinya. Ia pun membuntuti pemulung itu pergi. Sampailah ia ke sebuah lapak milik seorang pengusaha sampah. Ia melihat si pengusaha sampah memiliki dua buah mobil. “Saya kagum. Padahal dia cuma lulusan SD,” tutur Baedowy. Dia akhirnya bekerja dengan pengusaha sampah itu sekaligus belajar mendapatkan ilmu berbisnis sampah. Setelah beberapa bulan, ia mulai membuka usaha sendiri. Bermodalkan 50 juta rupiah, ia juga memutuskan untuk membeli lahan dengan kondisi sederhana. Ia juga membeli mesin pencacah sampah bekas.

Hambatan Silih Berganti

Usaha Baedowy ini mengalami beragam cobaan. Di tahun pertama berbisnis, ia mendapatlan beragam kendala teknis maupun maupun non teknis. Mesin bekas yang ia beli rusak. Pihak penjual tidak bisa memperbaikinya. Ia juga meminta tolong pihak pengepul, tetapi mereka tidak mau mengajarkan bagaimana memperbaiki mesin penggiling sampah. “ Dulu, cobaan saya keras betul. Mesin sering ngadat. Akhirnya saya perbaiki sendiri selama setahun. Saya bawa ke tukang besi dan las bubut. Tidak hanya itu, saya juga mendapatkan tekanan dari berbagai pihak tak terkecuali keluarga saya tentang pekerjaan saya. Mereka malu punya anak lulusan sarjana tapi kerjaanya mengurusi sampah.” Kenangnya.

Namun, berkat usahanya mengutak atik mesin pencacah sampah secara mandiri, ia jadi tahu seluk beluk mesin. Dia bahkan sanggup mendesain mesin sendiri dengan mempelajari kesalahan dari mesin yang ada. Sayangnya, saat itu modalnya semakin tipis. Tepat setahun sejak membuka usahanya, ia bangkrut. “Itu adalah masa yang paling menyedihkan bagi saya. Saya dan keluarga harus hengkang dari rumah kontrakan karena tidak sanggup lagi membayar uang sewa. Bahkan saya harus menitipkan istri dan anak saya ke orang tua saya.” Kenangnya sedih.

Ia sadar kesuksesan tidak instan. Ia terus bangkit. Ia kembali memulai bisnisnya dengan bermodalkan mobil pick up. Ia juga kembali belajar ke pengepul besar. Ia mendapatkan ilmu baru untuk menetapkan harga agar disenangi para pemulung. “Kalau pengepul lain menerima dengan harga Rp1.500 per kilogram, saya berani menerima dengan harga Rp1.700. Akhirnya, para pemulung lebih suka menjual kepada saya,” ceritanya. Sejak saat itu usaha Baedowy mulai bangkit.

Melestarikan Lingkungan sekaligus Berbisnis

Usaha Baedowy memang ramah lingkungan. Bagaimana tidak, ia turut mengolah kembali sampah menjadi barang-barang yang bisa digunakan kembali yakni seperti beraneka bijih plastik, sendok lem, hingga lakop sapu. Untuk mengolah sampah tersebut, Baedowy mengumpulkan sampah-sampah plastik di daerah Mustika Jaya, Bekasi Jawa Barat. Ia juga mendapatkan sampah dari para pengepul atau lapak di Jawa Barat. Sampah plastik yang telah terkumpul lalu ditimbang dan dipisahkan berdasarkan jenisnya. “Sampah-sampah tersebut harus dipisahkan berdasarkan jenis dan warnanya masing-masing. Jadi dari awal sampah-sampah plastik dikumpulkan dari para pemulung akan disetorkan pada bandar atau lapak. Nah, lapak-lapak itu akan memberikan hasil kumpulan sampah-sampah plastiknya ke tempat kami. Lalu, kami akan menimbang dan membayar sesuai harga yang kita sepakati.” Ungkapnya.

Pengolahan sampah plastik menggunakan mesin pencacah sampah buatannya sendiri. Proses awal dalam pengolahan sampah adalah memasukkan sampah-sampah plastik ke dalam mesin pencacah. Mesin akan menggiling sampah plastik menjadi bentuk cacahan. Setelah itu memasuki proses pencucian dan pembilasan. Terakhir, cacahan sampah plastik memasuki proses pengeringan. Dalam proses ini, Baedowy juga membuat mesin peras yang menggunakan sistem sentrik dimana akan berputar secara cepat untuk mengeringkan cacahan sampah tersebut. Sistem kerjanya mirip dengan mesin cuci. Agar lebih kering, cacahan sampah juga dimasukkan ke dalam oven khusus. Dalam sehari Baedowy mampu menggiling sampah sebanyak satu hingga tiga ton.

Kini Baedowy bukan sekadar menjadi penadah, tetapi juga pembuat mesin dan menjualnya kepada mitra. Mekanismenya mirip franchise. Sebab, selain diberi pelatihan setelah membeli mesin darinya, hasil penggilingan mitra bisnis juga ditampung. Saat ini Baedowy memiliki lebih dari 100 mitra yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia dari Aceh hingga Papua. Bijih plastik hasil olahannya pun diekspor hingga ke luar negeri. “ Hasil olahan plastik ini kami ekspor juga, terutama di China. Bijih-bijih palstik sangat dibutuhkan di sana untuk membuat benang pada pabrik tekstil.” Ujarnya.

Usaha yang melibatkan para pemulung ini semakin berbuah manis. Selain mendapatkan keuntungan yang besar hingga 1,5 Milyar per tahun, ia juga mendapatkan beragam penghargaan secara nasional hingga internasional sebagai usaha yang peduli terhadap lingkungan. Penghargaan tersebut diantaranya juara 1 pemuda pelopor tingkat nasional 2006, tokoh terbaik pilihan majalah Tempo, Soegeng Sarjadi Awards on Good Governance, piagam penghargaan Kalpataru 2010, juara 1 wirausaha terbaik Indonesia versi Dji Sam Soe Awards, hingga Indonesia Asean Young Green Soldier 2011.

Dengan pencapaian sekarang, Baedowy teringat sebuah tulisan yang dikutip dari kitab kuno tulisan Sasongko Jati. Tulisan itu dia pajang di halaman depan skripsinya. Menurut penerjemahannya, tulisan bahasa Jawa itu kira-kira berbunyi: ’’Bagaimana mungkin kamu bisa mengerjakan pekerjaan yang besar kalau yang kecil saja tidak terbiasa. Dan, pekerjaan itu walaupun remeh semua datangnya dari Tuhan. Maka lakukan dengan sungguh-sungguh dan hati yang suci”. Dari tulisan tersebut, ia ingin memberikan gambaran kepada masyarakat untuk menghargai lingkungan dimulai dengan cara yang sederhana dan hati yang tulus.

 
Leave a comment

Posted by on April 14, 2013 in community

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: