RSS

Street food: Bukan Sekedar Makanan Pinggiran

28 Apr

Street food alias makanan pinggir jalan, siapa sih yang tidak kenal? Apalagi buat anak kos seperti saya, sehari-hari banget! – hehe jadi curhat  Oya, kok saya tiba-tiba kok jadi ngomongin makanan? Jadi begini, kali ini saya mau ikut lomba dulu yah ada kontes blog nih, namanya Femina Foodlovers Blog Competitions 2013 yang diadakan oleh Femina dong tentunya. Hadiahnya ke Singapura untuk menghadiri World Street Food Congress 2013 – bagian WSF Jamboree Feast, 2 -4 Juni 2013 untuk mencicipi street food terbaik dari seluruh dunia. Gratis! Oya Anda, juga boleh ikutan kok caranya klik banner di bawah ini nih.

Oke deh, langsung aja yuk kita bahas tentang street food. This is it :

Identitas suatu daerah

Yup, street food yang juga dikenal sebagai makanan ala Pedagang Kaki Lima (PKL) sering sekali dijumpai di berbagai tempat di Indonesia. Dinamakan sebagai street food karena lokasinya ada di pinggir jalan dengan tampilan yang cenderung sederhana yakni menggunakan gerobak beroda dua, tenda, hingga lesehan. Penataan lokasi berjualan biasanya bongkar pasang dengan menetap di suatu lokasi maupun berkeliling ke berbagai lokasi. Paling sering PKL dijumpai di pinggir alun-alun kota, area wisata, perkantoran, hingga area kampus atau sekolah. Semarang contohnya merupakan kota yang terkenal dengan street food-nya yaitu penyetan. Panganan yang satu ini tidak asing di daerah kampus saya. Sebagian besar anak kos pasti makan ini -hehehe curhat lagi. Penyetan dikenal juga dengan pecel lele, tetapi bukan sekedar ikan lele saja dalam makanan ini. Ada tempe, tahu, telur, terong, ayam, bebek, burung dara, hingga pete yang digoreng atau dibakar dan disajikan dengan sambal tomat atau trasi uleg serta lalapan berupa kol, kacang panjang, dan mentimun. Semarang juga terkenal dengan tahu gimbal yakni tahu dan sayur dengan sambal kacang. Agak mirip gado-gado sih. Oya, ada juga lho street food yang terkenal banget di Semarang, tepatnya di kampung pecinan. Di tempat ini banyak banget makanan Chinese food kayak aneka seafood, mie, dan aneka jajanan khas semarang seperti lumpia, wingko, leker, kue ganjel rel, dan sebagainya. Kota lain yang identik banget dengan street food yang saya tahu adalah Pekalongan. Hampir di pinggir alun-alun kota pasti ada lesehan nasi megono (sejenis nasi urap), soto tauco, hingga pindang tetel (mirip seperti rawon yang diberi urap). Bahkan kota ini selalu mengadakan pameran batik dan festival kuliner setiap tahun di alun-alun Jetayu.

Kopi tahlil perpaduan kopi dengan jahe di warung kopi Pekalongan

Kopi tahlil perpaduan kopi dengan jahe di warung kopi Pekalongan

nasi megono terbuat dari nangka muda dan kelapa parut, enak selagi hangat

nasi megono terbuat dari nangka muda dan kelapa parut, enak selagi hangat

Begitulah, saya jadi mengambil kesimpulan jika ternyata dari jajanan pinggir jalan ini mencerminkan identitas tersendiri bagi suatu daerah. Di Pemalang identik dengan street food nasi grombyang, di Magelang ada kupat tahu, di Solo ada nasi timlo dan masih banyak lagi. Bahkan, street food juga menceminkan keragaman waktu. Contohnya street food di pagi hari biasanya bubur ayam, lontong sayur, nasi gudeg, hingga nasi uduk. Street food siang hari biasanya pecel, gado-gado, bakso, mie ayam, hingga aneka soto. Sedangkan di malam hari kita bisa menikmati sate, penyetan, nasi goreng, martabak, hingga aneka bakmi.

Rasa boleh diadu

Siapa bilang street food rasanya tidak bisa diandalkan? Eits jangan salah, justru katanya banyak tercipta koki-koki jalanan yang gak kalah sama di resto. Buktinya ada di Semarang. Ada sebuah warung tenda nasi rawon di jalan Setiabudi yang ramenya minta ampun! Nasi rawon ini enak dan digemari warga kalangan atas. Banyak mobil pribadi para pembeli parkir di depan warung ini.
Ayah saya juga mengakui rasa masakan dipinggir jalan lebih enak. Pernah saya mengajak beliau makan di sebuah cafe, setelah itu beliau komentar cukup kali ini saja makan di cafe. Rasanya kurang cocok bagi lidahnya. Ya, saya juga mengakui masakan ala street food memiliki rasa yang oke. Terutama untuk makanan tradisional seperti pecel, rujak, dan gado-gado yang rasanya dalam Bahasa Jawa lebih ngluget alias bumbu tercampur rata. Hanya saja, penyajian street food seringkali apa adanya berbeda dengan makanan ala resto yang sering dilengkapi dengan garnish sehingga mempercantik dan menggugah selera. Saran saya untuk mengetahui kualitas rasa street food tersebut ada baiknya Anda mencari makanan pinggir jalan yang ramai pengunjung. Hal itu menunjukkan street food tersebut recomended yakni sudah menjadi langganan banyak orang.

Harga ramah di kantong

Poin inilah yang paling saya sukai dari street food yakni harga terjangkau. Bayangkan dengan Rp 500 hingga Rp 1000 saja Anda sudah bisa membeli sepotong gorengan maupun jajanan pasar. Bahkan dengan Rp 10.000 saja Anda bisa menikmati semangkuk bakso, mi ayam, hingga nasi goreng. Harga yang murah apalagi di kalangan anak kos, hehehe. Akan tetapi, saya juga pernah menjumpai street food yang menetapkan harga sembarangan. Oleh karenanya, ada baiknya menanyakan harga sebelum membeli.

Tempat nongkrong dan sharing

Street food juga merupakan tempat nongkrong yang asyik. Menurut saya, street food bisa menjadi lokasi alternatif liburan untuk menghilangkan penat. Di Pekalongan tepatnya di depan SMP Negeri 2 banyak sekali berjejeran lesehan warung kopi. Penikmatnya tidak hanya orang tua, tetapi juga para muda-mudi. Sambil menikmati aneka kopi hingga hot chocolate, saya bisa berbagi informasi atau sekedar ngobrol dengan pengunjung lainnya. Manfaatnya, selain mendapatkan kenalan baru, saya juga bisa mengetahui kabar-kabar up to date di daerah setempat dan juga saling bertukar pikiran. Dari obrolan di street food inilah, saya sering mendapatkan ide-ide segar untuk melakukan sesuatu hal, sungguh menginspirasi.

Walaupun demikian, street food memilki kekurangan dengan masalah higienitas. Masih ada street food nakal yang menggunakan bahan makanan yang sudah tidak layak pakai. Oleh karenanya harus pandai-pandai memilih street food. Oya, berikut ini ada beberapa tips dari saya agar aman dan nyaman mengkonsumsi street food :

– Bawa peralatan makan sendiri

Anda harus memperhatikan kebersihan peralatan makan street food. Seperti saya terkadang membawa mangkuk sendiri ketika membeli mie ayam, karena sering kali peralatan makan dicuci dalam satu ember air yang kurang bersih.

– Perhatikan kebersihan

Carilah lokasi street food yang bersih yakni tidak ada lalat. Karena lalat tersebut membawa kuman yang dapat mengakibatkan penyakit seperti disentri, kholera, diare, hingga gatal-gatal pada kulit. Anda juga harus memperhatikan bahan makanan street food, apakah minyak sudah jenuh, apakah sayuran dicuci terlebih dahulu, apakah es batu terbuat dari air yang matang, apakah bungkus makanan bersih dan sebagainya.

– Banyaklah request

Tidak ada salahnya Anda banyak request saat memesan makanan. Hal ini bertujuan untuk memastikan makanan yang Anda konsumsi sehat. Misalnya Anda memesan mie ayam, request-lah seperti tidak diberi bumbu penyedap masakan, tidak diberi saos sambal, minta tambah sawi, dan minta banyak ayamnya hehe…

– Bawa uang receh

Hal ini perlu mengingat sering kali terjadi pungutan liar (pungli) dari pengemis maupun pengamen saat tengah menikmati street food.

Itulah pendapat saya tentang street food. Saya sangat mendukung keberadaan street food di Indonesia. Karena selain membantu perekonomian para PKL juga dapat memperkaya keragaman kuliner nusantara. Saya sangat menyayangkan sikap pemerintah menggusur para PKL karena dianggap membuat kumuh kawasan kota. Justru seharusnya, PKL ditata dan dipromosikan agar menambah keindahan kota serta memunculkan potensi pesona kuliner setempat.

 
Leave a comment

Posted by on April 28, 2013 in community

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: